“akhirnya semua akan tibapada suatu hari yang biasa
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
hal kecuali dalam cinta?”
(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)
“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
Gie merupakan seorang pecinta alam, ia merupakan pencetus pertama berdirinya pecinta alam UI. Kegiatan utamanya adalah melakukan pendakian di berbagai gunung di Indonesia. Dan yang pada akhirnya mengantarkan ia dan 7 rekannya (Anton Wiyana, A. Rahman, Freddy Lasut, Idhan Lubis, Herman Lantang, Rudy Badil, Aristides Katoppo). ke puncak abadi para dewa yaitu puncak Gunung Semeru (Mahameru) pada tahun 1969. Pada pendakian inilah Gie meninggal dunia, tepat tiga hari sebelum tanggal kelahirannya. Ia meninggal pada umur yang relatif muda sekitar 26 tahun.
Semasa hidupnya sebagai seorang aktivis ia berani melontarkan pendapat - pendapatnya yang ditujukan kepada pemerintahan, yang mana hal itu dapat membahayakan kehidupan dan nyawanya sendiri. Suatu ketika ia pernah berbaring di depan para pasukan pengaman presiden Soekarno dengan tujuan untuk berhenti.


